International Women’s Day 2026: Kepemimpinan Perempuan untuk Indonesia yang Lebih Inklusif
Perjalanan menuju pembangunan yang inklusif tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang baik, tetapi juga oleh siapa yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Perempuan perlu didorong untuk memiliki ruang untuk memimpin sehingga perspektif pembangunan menjadi lebih luas dan mampu menjangkau kebutuhan masyarakat yang beragam, yang sering kali luput dari perhatian. Data menunjukkan bahwa tingkat representasi perempuan sebagai kepala dan wakil kepala daerah masih rendah, yaitu sekitar 10 persen dari total 1.090 posisi kepala dan wakil kepala daerah di Indonesia.
Momentum International Women’s Day 2026 mengingatkan pentingnya mendorong dan memperkuat peran perempuan dalam kepemimpinan di berbagai sektor. Upaya ini dapat dilakukan, antara lain, melalui kampanye serta penyebaran inspirasi dari para pemimpin perempuan mengenai pembelajaran dan langkah-langkah yang mereka lakukan dalam merespons berbagai tantangan yang dihadapi.
Ribka Haluk: Inspirasi Perempuan Indonesia
Salah satu sosok yang menjadi inspirasi dalam perjalanan kepemimpinan perempuan di Indonesia adalah Ribka Haluk, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Republik Indonesia. Lahir dan besar di Piramid, Kabupaten Jayawijaya, Ribka Haluk menempuh pendidikan di Universitas Cenderawasih hingga meraih gelar doktor di bidang manajemen. Ia meniti karier panjang dalam birokrasi dan menunjukkan komitmennya pada pelayanan masyarakat serta tata kelola pemerintahan yang efisien hingga dipercaya mengemban tanggung jawab di tingkat nasional.
Pengalamannya memimpin di berbagai wilayah di Papua dengan tantangan pembangunan yang kompleks membentuk perspektif kepemimpinan yang kuat. Ribka Haluk pernah dipercaya menjadi Penjabat Gubernur Papua Tengah, sebuah provinsi baru yang membutuhkan fondasi tata kelola pemerintahan yang kokoh. Dalam waktu singkat, ia memimpin proses pembentukan kelembagaan daerah, penguatan birokrasi, hingga pembangunan infrastruktur dasar yang menjadi fondasi pelayanan publik.
Bagi Ribka Haluk, perjalanan kepemimpinan perempuan tidak pernah lepas dari berbagai tantangan. Budaya patriarki yang masih kuat di banyak ruang kerja membuat perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kapasitasnya. Namun demikian, ia percaya bahwa perempuan memiliki keunggulan tersendiri dalam memimpin.
“Perempuan memiliki kepekaan, ketelitian, dan perhatian terhadap hal-hal kecil. Justru dari situ kita bisa melihat persoalan secara lebih menyeluruh untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Perspektif tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar soal representasi, tetapi juga tentang bagaimana perempuan membawa pendekatan yang berbeda dalam memecahkan masalah dan mengelola kebijakan.
Kepemimpinan perempuan juga tidak hanya penting di tingkat nasional. Di tingkat daerah, perempuan semakin berperan aktif dalam proses perencanaan pembangunan yang menentukan arah kebijakan bagi masyarakat.
Mendorong Partisipasi Perempuan Melalui Musrenbang
Salah satu ruang penting untuk memperkuat partisipasi tersebut adalah Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik GEDSI atau Musrenbang Inklusif. Forum ini membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat untuk memastikan berbagai perspektif, termasuk dari perempuan, dapat menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan.
Melalui forum tersebut, perempuan memiliki kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, aspirasi, dan kebutuhan komunitasnya secara langsung. Perspektif ini penting agar kebijakan pembangunan dapat lebih responsif terhadap tantangan nyata yang dihadapi masyarakat.
Pendekatan ini juga diperkuat melalui SKALA (Sinergi dan Kolaborasi untuk Akselerasi Layanan Dasar), Program Kemitraan Australia–Indonesia, yang mendukung Pemerintah Indonesia dalam memperkuat tata kelola layanan dasar yang inklusif.
Dengan mendorong pendekatan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), SKALA berupaya memperluas ruang partisipasi masyarakat, termasuk perempuan, dalam proses pembangunan daerah. Pendekatan ini bertujuan memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga mencerminkan kebutuhan masyarakat secara lebih menyeluruh.
Kepemimpinan perempuan menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan perspektif baru dalam pengambilan keputusan. Pesan Ribka Haluk kepada perempuan Indonesia sederhana namun penuh makna: perempuan perlu percaya pada kemampuan diri sendiri dan berani mengambil peran dalam pembangunan.
Menurutnya, jumlah perempuan dalam kepemimpinan publik di Indonesia memang masih terbatas, tetapi tren yang ada menunjukkan perkembangan yang semakin positif. Semakin banyak perempuan yang mulai mengambil peran sebagai kepala daerah, pemimpin birokrasi, maupun tokoh masyarakat. Optimisme ini menunjukkan bahwa masa depan kepemimpinan perempuan di Indonesia terus berkembang.
“Saya optimis perempuan Indonesia akan semakin maju dan mandiri. Semakin banyak perempuan yang berani mengambil peran kepemimpinan dan memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa,” ungkap Ribka Haluk.
International Women’s Day menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa kesetaraan bukan hanya tentang membuka pintu kesempatan, tetapi juga memastikan perempuan memiliki ruang untuk memimpin, berkontribusi, dan membentuk arah pembangunan.
Ketika perempuan memiliki kesempatan untuk memimpin, pembangunan yang lebih inklusif bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sebuah realitas yang sedang dibangun bersama.
For ALL women and girls: Rights. Equality. Empowerment.